pengumuman

selamat datang di blog Lembaga Study dan Sosialisasi Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam As-Syafi'iyah * bagi teman-teman yang ingin mengirimkan tulisan, kritik, dan saran, silahkan kirim melalui email kami di hukumuia@gmail.com, * dan mulailah membiasakan diri untuk meninggalkan komentar ketika anda membuka dan membaca suatu blog

Our Rule

penjajahan di atas bumi telah di hapuskan. dan dari sinilah langkah terpacu untuk bangkit melawan atau diam tetap tertindas....

Selasa, 30 November 2010

Soekarno Menggugat

Oleh Asvi Warman Adam*

Tidak banyak diketahui umum bahwa tahun 1965-1967 Presiden Soekarno sempat berpidato paling sedikit sebanyak 103 kali. Yang diingat orang hanyalah pidato pertanggungjawabannya, Nawaksara, yang ditolak MPRS tahun 1967. Dalam memperingati 100 tahun Bung Karno, tahun 2001 telah diterbitkan kumpulan pidatonya. Namun, hampir semuanya disampaikan sebelum peristiwa G30S 1965.

Kumpulan naskah ini diawali pidato 30 September 1965 malam (di depan Musyawarah Nasional Teknik di Istora Senayan, Jakarta) dan diakhiri pidato 15 Februari 1967 (pelantikan beberapa Duta Besar RI). Pidato-pidato Bung Karno (BK) selama dua tahun itu amat berharga sebagai sumber sejarah. Ia mengungkapkan aneka hal yang ditutupi bahkan diputarbalikkan selama Orde Baru. Dari pidato itu juga tergambar betapa sengitnya peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Di pihak lain, terlihat pula kegetiran seorang presiden yang ucapannya tidak didengar bahkan dipelintir. Soekarno marah. Ia memaki dalam bahasa Belanda.

Konteks pidato

Periode 1965-1967 dapat dilihat sebagai masa peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto. Dalam versi pemerintah, masa ini dilukiskan sebagai era konsolidasi kekuatan pendukung Orde Baru (tentara, mahasiswa, dan rakyat) untuk membasmi PKI sampai ke akarnya serta pembersihan para pendukung Soekarno.

Mulai tahun 1998 di Tanah Air dikenal beberapa versi sejarah yang berbeda. Selain menonjolkan keterlibatan pihak asing seperti CIA, juga muncul tudingan terhadap keterlibatan Soeharto dalam "kudeta merangkak", yaitu rangkaian tindakan dari awal Oktober 1965 sampai keluarnya Supersemar (Surat perintah 11 Maret 1966) dan ditetapkannya Soeharto sebagai pejabat Presiden tahun 1967. "Kudeta merangkak" terdiri dari beberapa versi (Saskia Wieringa, Peter Dale Scott, dan Subandrio) dan beberapa tahap.

Substansi pidato

Setelah peristiwa G30S, Soekarno berusaha mengendalikan keadaan melalui pidato-pidatonya.

"Saya komandokan kepada segenap aparat negara untuk selalu membina persatuan dan kesatuan seluruh kekuatan progresif revolusioner. Dua, Menyingkirkan jauh-jauh tindakan-tindakan destruktif seperti rasialisme, pembakaran-pembakaran, dan perusakan-perusakan. Tiga, menyingkirkan jauh-jauh fitnahan-fitnahan dan tindakan-tindakan atas dasar perasaan balas dendam."

Ia juga menyerukan "Awas adu domba antar-Angkatan, jangan mau dibakar. Jangan gontok-gontokan. Jangan hilang akal. Jangan bakar-bakar, jangan ditunggangi". Dalam pidato ia menyinggung Trade Commission Republik Rakyat Tiongkok di Jati Petamburan yang

Selasa, 23 November 2010

Kesalahan Sejarah

Oleh Adree Dzeelapiano
Kajian historis sosial bangsa Indonesia

Sejalan dengan perkembangan kehidupan di dunia, corak warna hidup mungkin banyak di temukan. Sikap, moral, keinginan, visi, misi dan tingkah laku yang berbeda-beda adalah harga mutlak menjalin citra sosial yang mengindikasikan kenegatifan ataupun kepositifan dari sosial berbangsa.

Indonesia yang lahir dengan tekad persatuanya pada dekade 1928, dengan berselang waktu 20-an tahun mendeklarasikan kemerdekaanya, adanya beberapa moment untuk menggelontorkan beberapa rezim, dan juga berabad-abad kehidupan manusia berjalan hingga sampai saat ini yang kemudian menjadi rujukan untuk menjalani keseharian baik dalam aspek ekonomi, hukum, budaya, politik, juga beragama adalah bentuk tanggung jawab moral sejarah yang telah memberikan sumbangsih besar dalam menciptakan berbagai tatanan, norma dan aturan bagaimana dalam bersikap juga keharusan tingkah laku dalam konteks kekinian.

Kemerdekaan yang menyisakan kolonialisme juga feodalisme dan kapitalisme membentuk ‘garasi’ baru bagi perjalanan Indonesia. Kolonialisme membentuk gerakan-gerakan underground yang hingga saat ini menjadi rujukan untuk menundukkan rezim yang berkuasa yang meskipun sifatnya ad hock akan tetapi ini berpengaruh besar dalam perkembangan Indonesia, norma-norma feodalis yang membentuk sikap tunduk konservatif mengarah pada terbentuknya otoriterian baru sehingga mengunci terbukanya pembaharuan-pembaharuan dalam berbagai aspek di Indonesia, sehingga momentum yang menentukan pembaharuan tersebut. 

Runtuhnya kapitalisme di dunia menyisakan bentuk dan kapitalisme baru, adanya lintah darat pada dekade reinassance misalnya, yang kemudian diruntuhkan dengan adanya gerakan buruh.

Kehancuran Bangsa

Kegagalan-kegagalan kolonialisme, feodalisme, liberalisme, kapitalisme dan isme-isme lainya yang sifatnya import tersebut merebak di Indonesia dan kemudian membentuk reformulasi-reformulasi baru. Sedangkan isme-isme dalam negeri gagal seperti Marhaenisme, madilog, gerpolek, dan lain-lainnya yang