pengumuman

selamat datang di blog Lembaga Study dan Sosialisasi Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam As-Syafi'iyah * bagi teman-teman yang ingin mengirimkan tulisan, kritik, dan saran, silahkan kirim melalui email kami di hukumuia@gmail.com, * dan mulailah membiasakan diri untuk meninggalkan komentar ketika anda membuka dan membaca suatu blog

Our Rule

penjajahan di atas bumi telah di hapuskan. dan dari sinilah langkah terpacu untuk bangkit melawan atau diam tetap tertindas....

Minggu, 14 Agustus 2011

Ilmu: antara Tantangan dan Masa Depan


Oleh adree Dzeelapiano

Filsafat dan Ilmu adalah dua hal yang saling terikat satu sama lain, baik secara subtansial maupun historis. Karena, ilmu lahir tidak lepas dari peran filsafat, begitu pun sebaliknya, peranan ilmu dapat memperkuat keberadaan filsafat.

Keberadaan filsafat secara historis, mampu merubah pola pikir bangsa yunani dan umat manusia yang awalnya berpandangan mitosentris menjadi logosentris. Yang awalnya berpandangan bahwa semua yang terjadi di alam jagad raya ini adalah kehendak dewa, kini justru dirubah menjadi pola rasio yang memang terjadi secara teoritis dan sistemik.

Pola pikir yang berubah pesat dari pola mitosentris menjadi logosentris ini, tidak berdampak kecil bagi kelangsungan hidup manusia. Alam yang tadinya ditakuti karena kepercayaan dan ketakutan kepada dewa sangat tinggi, kini dapat didekati bahkan dieksploitasi. Perubahan itu dapat kita jumpai pada temuan-temua hokum alam dan teori-teori ilmiah, yang hari ini banyak
dipelajari dan menjadi acuan akademik. Semua gejala yang terjadi, baik alam jagad raya ini (makrokosmos) maupun gejala yang terjadi pada alam kemanusiaan, dapat kita analisa melalui berbagai macam disiplin ilmu. Untuk mengkaji alam jagad raya ini, dapat kita lakukan dan kita temukan dengan pendekatan astrologi, fisikia, kimia, dll. Sedangkan alam kemanusiaan dapat kita jumpai dengan pendekatan sosiologi, biologi, psychology, dll. Ilmu-ilmu tersebut kemudian terspesialisasikan, dan dipersempit, sehingga bersifat aplikatif dan sangat dapat dirasakan manfaatnya.

Ilmu yang terspesialisasikan baik kedalam pendekatan makrokosmos maupun mikrokosmos, kemudian dalam perkembanganya, Ilmu terbagi kedalam beberapa disiplin yang membutuhkan pendekatan, objek dan ukuran yang berbeda-beda antar disiplin ilmu yang satu dengan lainya. Sehingga, cabang ilmu semakin subur dengan segala varietasnya.

Ilmu yang kemudian terbagi kedalam variasinya masing-masing itu, kemudian tak dapat dipungkiri terbentuknya sekat-sekat antar disiplin ilmu lainya, sehingga muncul arogansi-arogansi antar ilmu tersebut, bahkan bukan hanya sekat dan arogansinya, akan tetapi akan terjadi pemisahan antara ilmu dengan cita luhurnya yang bertujuan untuk menyejahterakan umat manusia. Bahkan lebih bahaya lagi jika kemudian, ilmu menjadi bencana bagi kehidupan umat manusia, sehingga menimbulkan kekacauan sosial dan kekacauan alam yang belakangan juga sudah kita rasakan, seperti adanya pemanasan global dan dehumanisasi di sekitar kita.

Kekacauan-kekacauan yang melanda, baik alam makrokosmos maupun mikrokosmos yang sudah terdeskripsi itulah, yang kemudian menjadi sebuah tantangan sekaligus menjadi masa depan ilmu. Karena bak 2 bilah pisau, semakin ilmu berkembang dan maju, justru semakin besar kekhawatiran yang timbul, sedangkan tidak ada otoritas manapun yang mampu membendung laju ilmu tersebut.

Seiring dengan perkembangan Ilmu, Kant mengatakan bahwa, apa yang dikatakan rasionalitas itu adalah masuk akal[1], dan ilmu yang berdasarkan rasionalitas tidak memiliki batas kecuali rasionalitasnya sendiri, sedangkan rasionalitas tak terbatas oleh apapun kecuali oleh hokum alam, bahkan tidak ada yang mengetahui sampai mana batasan hokum alam, baik batasan ruang maupun waktu. Maka Ilmu akan tetap melaju sampai mana Ilmu itu dibutuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar